Ajak Petani Olah Lahan Tanpa Bakar

Bupati Kubu Raya Muda Mahendrawan, Kapolresta M. Anwar Nasir, dan Dandim 1207/BS Stefie Tjantje Nuhujanan foto bersama saat diluncurkan tani subu sejahtera arang limbung dengan para petani

Kuburaya.com– Mengantisipasi terjadinya kebakaran hutan dan lahan, Pemerintah Kabupaten Kubu Raya bersama tim Unit Perlindungan Tanaman (UPT) Pangan dan Hortikultura Kalimantan Barat bergerak cepat memulai penerapan teknologi olah tanah pada lahan gambut di sejumlah desa yang rawan karhutla. Teknologi yang memungkinkan para petani mengolah lahan tanpa membakar ini diluncurkan di Kelompok Tani Subur Sejahtera Desa Arang Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Rabu (3/4).

“Jadi saat ini kita membuat demplot olah tanah tanpa bakar. Kita mengharapkan agar petani tidak lagi membakar lahan sehingga mencegah terjadinya karhutla,” kata Kepala UPT Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura Kalimantan Barat Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kalimantan Barat, Yuliana Yulinda, di sela kegiatan.

Yuliana mengungkapkan berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kalimantan Barat, terdapat sebanyak 182 desa di 14 kabupaten/kota se-Kalimantan Barat yang rawan karhutla. Dari jumlah tersebut 18 desa di antaranya berada di wilayah Kabupaten Kubu Raya. Karena itu, pihaknya berencana mengupayakan program sosialisasi dan praktek mengolah tanah tanpa bakar di 18 desa tersebut.

“Program kita ke depan kita usahakan di 18 desa tersebut kita adakan sosialisasi dan praktekkan bagaimana cara mengaplikasikan teknik trichoderma dalam rangka mengolah tanah tanpa bakar. Sehingga petani tidak lagi menggunakan cara pembakaran. Itu harapan kita karena dampak dari membakar ini memang benar-benar merugikan,” tuturnya.

Yuliana menerangkan teknologi yang digunakan untuk mengolah tanah tanpa bakar adalah aplikasi teknik trichoderma. Trichoderma adalah cendawan yang dapat menambah unsur hara di tanah. Cendawan atau jamur ini nantnya berperan penting dalam mengolah lahan tanpa bakar. Selain berkembang biak secara alami di alam bebas, trichoderma juga dapat dibiakkan secara buatan. Cara inilah, menurut Yuliana, yang akan dilakukan di desa-desa rawan karhutla.

“Setelah lahan dibersihkan, dimulailah pembuatan trichoderma dengan sejumlah bahan seperti kotoran sapi, ayam, dan sebagainya. Juga cacahan dari rumput atau alang dan lainnya. Nanti dicampur semua dan ditaburkan. Ini trikoderma padat. Tapi kalau kita gunakan trichoderma cair tinggal disemprot,” terangnya.

Yuliana menjelaskan sebelum turun ke desa-desa rawan karhutla, pihaknya terlebih dahulu akan mengundang para petani untuk mengikuti sosialisasi. Dengan begitu, para petani akan mendapatkan gambaran lebih awal tentang teknologi aplikasi trichoderma.

“Kita harus sosialisasi dulu sehingga ada sedikit gambaran untuk petani sehingga bisa menyiapkan apa-apa saja yang akan digunakan pada saat prakteknya nanti,” sebutnya.

Bupati Kubu Raya Muda Mahendrawan menyebut 70 persen dari total luas wilayah Kubu Raya merupakan lahan gambut. Karena itu memang rentan terhadap karhutla. Terkait hal itu, ia menilai perlunya dicari solusi yang inovatif sehingga bencana karhutla tidak selalu berulang setiap tahunnya.

“Kita mengapresiasi Kapolresta Pontianak Kota yang sudah menginisiasi kegiatan yang sinergis ini. Menyatukan pihak-pihak terkait baik dari kabupaten maupun provinsi. Mudah-mudahan apa yang dilakukan ini bisa meminimalkan karhutla ke depannya,” harapnya.

Muda mengakui masih banyak petani yang bekerja dengan pola pikir lama, yakni mengolah lahan dengan bakar. Di antara alasannya adalah untuk menghilangkan keasaman tanah. Namun, menurutnya, dengan aplikasi trichoderma masalah tersebut bisa teratasi.

“Nah, kita harus mencari metode yang bisa langsung dilakukan. Mudah-mudahan penyuluh kita bersama penyuluh masyarakat yang sudah paham bisa segera diajak untuk ke masyarakat yang memang masih membakar lahan. Para petani dapat dilatih atau diajak langsung learning by doing,” jelasnya.

Terkait hal itu, Muda meminta masyarakat petani untuk segera mendaftarkan diri ke dinas terkait. Sehingga memudahkan pemerintah daerah dan pihak terkait lainnya melakukan pelatihan metode pembelajaran langsung di lapangan. Ia menjelaskan di sejumlah daerah para petani terbukti berhasil membuka lahan tanpa membakar.

“Kita minta disampaikan kepada para petani. Nanti harus diedarkan lewat semua desa,” pintanya.

Kapolresta Pontianak Kota Muhammad Anwar Nasir mengapresiasi teknologi aplikasi trichoderma. Ia menilai program tersebut sebagai terobosan yang sangat penting agar langkah penanganan karhutla tidak jalan di tempat.

Karena itu, Anwar menyatakan perlunya pengawalan sehingga program dapat dilaksanakan hingga tuntas. Menurutnya, pola pikir mengolah lahan dengan membakar harus diubah. Karena terbukti ada teknologi yang memungkinkan untuk mengolah lahan tanpa membakar.

“Masyarakat juga butuh solusi sehingga harus ada komitmen semuanya. Komitmen pemerintah dan petani untuk mengawal program membuka lahan tanpa bakar,” ujarnya.(Abs)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here