Grafik Buta Aksara Terus Menurun

Sujiwo melakukan peninjauan kesiapan terhadap kapal yang akan beroperasi untuk mudik lebaran di dermaga digdoyo Rasau Jaya

Kuburayaonline.com – Pemerintah Kabupaten Kubu Raya terus berupaya menekan angka buta aksara. Dalam tiga tahun terakhir, tren buta aksara di Kubu Raya terus menurun. Wakil Bupati Kubu Raya Sujiwo mengungkapkan, Kubu Raya sempat menjadi salah satu kabupaten dengan angka buta aksara terbesar di Kalimantan Barat.

“Kita menyadari bahwasanya di 2016 dan 2017, Kubu Raya merupakan salah satu penyumbang terbesar buta huruf untuk provinsi. Namun dengan upaya keras pemerintah daerah, dari sekitar 30 ribu buta aksara di 2016 bisa diturunkan menjadi 25 ribu pada 2017 dan turun lagi menjadi sekitar 14 ribu di 2018. Dengan dukungan pemerintah pusat dan pemerintah provinsi, kami targetkan di 2019 dan 2020 bisa menurun di angka 10 ribu,” tutur Sujiwo pada Peringatan Hari Aksara Internasional ke-54 Tingkat Provinsi Kalimantan Barat yang digelar di Rumah Pintar Kecamatan Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya, Rabu (30/10). Hadir pada kegiatan tersebut Gubernur Kalimantan Barat Sutarmidji dan perwakilan Direktorat Pembinaan Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan Direktorat Jenderal PAUD dan Pendidikan Masyarakat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI Dr. Kastum, M.Pd.

Sujiwo menyebut buta aksara menjadi tantangan untuk pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan terkait. Karena itu, ditunjuknya Kabupaten Kubu Raya sebagai lokasi peringatan Hari Aksara Internasional tingkat provinsi menjadi motivasi untuk terus menekan angka buta aksara.

“Sebagai tuan rumah, tentunya ini akan memotivasi semua pihak terkait untuk bagaimana kita bekerja keras supaya bisa terus menurunkan angka buta aksara. Memang grafiknya dari 2016 buta aksara terus menurun,” ujarnya.

Sujiwo menyebut penuntasan buta aksara menjadi keharusan. Karena hal itu berkaitan langsung dengan upaya peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Kubu Raya. Terlebih Presiden Joko Widodo telah mencanangkan periode kedua pemerintahan yang akan memprioritaskan pembangunan sumber daya manusia.

“Ini sangat punya keterkaitan. Di era digitalisasi saat ini, masalah buta aksara harus semaksimal mungkin diturunkan sampai nol persen. Itu harapan kita untuk jangka panjangnya. Karena melek aksara dengan semua aspek dan sektor itu sangat berkorelasi. Dan dunia pun menyoroti hal itu,” terangnya.

Perwakilan Direktorat Pembinaan Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan Direktorat Jenderal PAUD dan Pendidikan Masyarakat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Dr. Kastum, M.Pd mengatakan, pada 2016 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah mencanangkan enam literasi sebagai upaya menyongsong abad ke-21. Enam literasi tersebut yakni literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi finansial, literasi digital, dan literasi budaya dan kewargaan.

“Artinya, kalau masyarakat Kalimantan Barat semuanya sudah berliterasi, berarti telah siap menyambut abad ke-21,” ujarnya.

Kastum mengungkapkan, setiap tahunnya angka buta aksara di Kalimantan Barat terus menurun. Kalimantan Barat, ujar dia, maju pesat dalam upaya melek aksara. Ia menyebut secara nasional angka buta huruf di Kalbar tinggal 1,07 persen. Atau sudah mencapai 93 persen.

“Alhamdulillah dan angka ini kalau diabsolutkan kurang lebih sekitar 3,2 juta. Untuk Kalbar sudah semakin tipis walapun masih di atas rata-rata nasional tapi tipis,” jelasnya.
Kastum menyatakan pihaknya setiap tahun selalu ikut dalam upaya pemberantasan buta aksara di wilayah Kalbar. Dirinya Ia memastikan hal itu akan terus berlangsung dengan sinergi bersama seluruh kepala dinas pendidikan.

Gubernur Kalimantan Barat Sutarmidji mengajak semua elemen masyarakat untuk menuntaskan buta aksara. Menurutnya, melek aksara adalah solusi untuk keluar dari kemiskinan.

“Mari kita sama-sama mengakhiri buta aksara. Karena ilmu pengetahuan itulah kunci dari kita keluar dari kemiskinan. Tanpa itu tidak mungkin,” ajaknya.
Sutarmidji mengatakan, Hari Aksara Internasional sangat kontekstual dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Ia mengungkapkan, di Kalimantan Barat buta aksara untuk usia 18 tahun ke bawah hampir tidak ada. Namun untuk yang 25 tahun ke atas masih ada. Terkait validitas angka buta aksara, dia menyebut data harus diperoleh dengan metode yang benar.

“Jika ambil data buta aksara, tidak bisa mengambil dengan teknik sampling. Harus tatap muka, wawancara dan turun langsung,” tegasnya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Barat Suprianus Herman mengatakan, Hari Aksara Internasional merupakan ajang global yang disepakati dan diperingati negara-negara anggota Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB). Kesepakatan itu sebagai wujud komitmen dunia internasional untuk memberantas buta aksara. Peringatan Hari Aksara Internasional 2019 mengangkat tema “Ragam Budaya Lokal dan Literasi Masyarakat”.

“Tujuan pencanangan adalah untuk mengingatkan masyarakat akan pentingnya melek aksara bagi individu, komunitas, dan masyarakat. Selain itu menekankan perlunya upaya yang intensif untuk memperkuat komitmen seluruh pemangku kepentingan di Indonesia sebagai gerakan literasi nasional. Sekaligus mengingatkan kembali konsensus negara-negara dunia dalam melakukan aksi nyata sebagai bentuk penuntasan buta aksara,” tuturnya.

Suprianus menjelaskan, rangkaian kegiatan Hari Aksara tingkat provinsi meliputi pameran produk unggulan daerah dari kabupaten/kota se-Kalimantan Barat, panggung kreasi generasi berbakat untuk ajang kreativitas anak usia dini, lomba keaksaraan warga/pelajar, dan lomba tutor keaksaraan fungsional.

“Selain itu peringatan juga diwarnai penyerahan bantuan dari PLN Unit Induk Kalimantan Barat untuk kegiatan belajar PKBM, bantuan sarana dan prasarana kampung literasi, bantuan bank sampah binaan PLN, bantuan wirausaha disabilitas Kubu Raya, dan bantuan pengembangan Desa Wisata Rajati Flower Garden di Desa Rasau Jaya Tiga Kubu Raya. Pada kesempatan itu juga diadakan Apresiasi Bunda dan Gugus PAUD se-Kalimantan Barat,” paparnya. (SRFN)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here