Pemkab Kubu Raya Sambut Kedatangan Devi Safitri

Devi Safitri (21), juara dunia ajang World Hapkido Championship Seoul 2018 di Korea Selatan terus meneteskan air mata
Devi Safitri (21), juara dunia ajang World Hapkido Championship Seoul 2018 di Korea Selatan terus meneteskan air mata

KubuRayaOnline.com – Tak tahan haru, Devi Safitri (21), juara dunia ajang World Hapkido Championship Seoul 2018  di Korea Selatan terus meneteskan air mata, melihat warga dan Pemerintah Kubu Raya menyambutnya dengan meriah.

Degan dikalungkan kain selendang batik yang bercorak mangrove, terus tersedu, heran meliat masyarakat, pelajar dan pegawai di lingkungan pemerintah Kubu Raya menyambutnya mulai dari Bandara Supadio Kubu Raya, hingga di halaman Kantor Bupati. Akibat rasa haru, terlihat tangan Devi memegang erat tangan sekretaris Koni Kalbar.

Devi yang merupakan putri sulung dari dua saudara itu, lahir dari keluarga yang sederhana, bahkan kedua orang tuanya sudah tiada.  Demi tekat dan kemauanya, Devi terus berjuang, agar adik kandung yang bersamanya bisa terus sekolah.

Sampai dikantor pemerintahan Kubu Raya, Devi semakin terharu, melihat para pelajar yang berjejer untuk menyambutnya. Saking terharunya, Devi tidak bisa mengucapkan apa-apa, hanya kesedihan yang terlihat dari pancaran mata yang berwarna merah.

Bahkan saat memberikan kata sambutan, Devi tidak terlepas dari tangis, lantaran teringat dengan kedua orang tuanya yang sudah lama meninggal. Meskipun terus menangis, Devi terus berusaha memberikan sambutan dan memotivasi para atlet, khususnya di Kubu Raya agar terus mencoba.

“Pertama saya ingat orang tua dan terharu, bisa disambut seperti ini. Yang dulunya saya seperti tidak dianggap. Tapi karena ada kemauan. Hingga saya disambut perti ini,” ucap Devi yang sempat berhenti menahan air mata.

Ia menjadi juara dunia, butuh perjuangan yang sangat berat, tetapi tidak harus kecil hati. “Dengan kepercayaan itu, saya lebih semangat dan bisa mewakili indonesia. Saya tidak percaya. Ini rasa mimpi. Saya minta dengan adik-adik, jangan berkecil hati, kita harus coba. Tuhan maha adil,” pintanya.

Devi menambahkan, perjuangan tersebut, bisa mengikuti Hapkido kejuaraan dunia, atas dukungan Pelatih hapkido. “Beliau (Rusli) yang selalu melatih kami, hingga saya bisa menjadi juara. Pelatih juga terus memberikan semangat. Beliau juga sudah seperti orang tua kami,” katanya.

Diakuinya hampir semua teknik dasar hapkido memang tidak jauh berbeda dengan taekwondo. Hanya saja memang ada beberapa teknik yang harus ia pelajari dari hapkido.

“Sebelumnya memang saya berlatih di tae kwondo, umur 19 tahun mulai di hapkido. hapkido ini 70 persen dari taekwondo, sisanya ada bantingan dan lainya, jadi tidak ada kesulitan karena sudah ada dasarnya, dan point bantingan ini paling besar,” tuturnya.

Devi juga mengucapkan terima kasih banyak dengan masyarakat Kubu Raya dan Pemerintah, karena sudah mendukung, hingga mengikuti kejuaraan tersebut. “Tanpa adanya dukungan, tentu kami tidak seperti ini. Makanya kami minta dengan para atlet, agar tidak patah semangat,” pintanya.

Ketika memulai olahraga ini diakuinya memang banyak sekali kesulitan yang dihadapi. Terlebih olahraga baru ini diakuinya belum banyak dikenal oleh masyarakat.

“Suka dukanya kalau latihan karena baru, jadi latihan fightingnya dengan pelatih saya ini. Mudah-mudahan dengan prestasi ini sehingga masyarakat Kubu Raya lebih banyak yang tertarik,” katanya.

Selama berada di Korea diakuinya pula tidak terlalu kesulitan, walaupun dari Kalbar ia hanya berangkat sendiri. Bahkan pelatihnya juga tidak bisa ikut serta karena keterbatasan dana.

“Pelatih saya tidak ikut karena keterbatasan dana, dan itu juga pelatih susah berusaha keras untuk memberangkatkan saya,” katanya.

Sehingga selama di Korea diakuinya ia dibantu tim pelatih Nasional yang juga membawa atlet dari daerah lain.

“Karena sebelumnya saya juga sudah ikut pelatnas dan pelatih Nasional itu welcome sekali sehingga sudah seperti pelatih sendiri. Kesulitan saya disana hanya di bahasa, karena orang Korea itu tidak semuanya bisa bahasa Inggris juga,” tuturnya.

Ia mengaku sangat bersyukur memiliki pelatih dan keluarga yang selalu mendukung keinginannya meraih prestasi. Hingga akhirnya ia berhasil memberikan hasil terbaik di kejuaraan dunia.

“Walaupun saya tidak punya orang tua tapi saya punya keluarga yang hebat dan pelatih ini saya anggap keluarga saya yang selalu membimbing saya,” katanya.

Tentu di usianya yang masih 21 tahun masih banyak yang ia kejar, namun karena pertimbangan adik-adiknya yang masih sekolah iapun akan mencoba peruntungan untuk menjadi TNI.

“Untuk melanjutkan sekolah ingin tapi masih ada adik-adik saya yang masih sekolah, jadi tidak mau membebani keluarga juga. Sementara ini saya belum kerja lagi proses daftar tentara semoga bisa lulus,” harapnya.

Ditempat yang sama, Wakil bupati kubu Raya Hermanus mengucapkan selamat atas prestasi yang luar biasa, yang mendapat sabuk emas di Korea Selatan. “Apalagi, ini cabang olahraga yang masih relatif baru. Baru eksis 2016 di Kalbar. Ternyata mampu mendapat prestasi di tingkat dunia,” ungkap Hermanus usai penyambutan atlet.

Hermanus menambahkan, dengan olahraga atlet ini, tentunya bisa mempromosikan Kubu raya yang relatif masih baru ini. “Mudah-mudahan setelah Devi ini, kedepannya bisa muncul atlet-atlet lainnya, yang mengharumkan nama Indonesia, khususnya Kubu Raya,” katanya.

Untuk menambahkan kegiatan olahraga, lanjut Hermanus,  pemerintah daerah ini harus mengembangkan sarana dan prasrana. “Yang sudah masuk dalam anggota Koni, tentu akan proaktif. Nantinya akan lahir atlet-atlet yang berprestasi, seperti yang terbukti sekarang ini,” katanya.

Melihat Devi mendapat juara dunia, Hemanus sangat kaget, karena Hari Jumat Devi bertemu dengannya untuk meminta dukungan dan semangat.

“Ternyata mampu meraih yang terbaik. Saya ucapkan selamat. Jangan membuat kita sombong, tetapi tetap rendah hati. Mudah-mudahan ini menjadi penyemangat, bagi adek adek yang belum berprestasi.

Dia berharap dengan SKPD teknis, agar diprogramkan untuk melakukan pembinaan-pembinaan terhadap atlet-atlet yang ada di Kubu Raya.

Laporan: Achmad
Editor: Arifin

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here